Beranda, Islami, Quotes, Syair, Doa,

Tampilkan postingan dengan label Syair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syair. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Januari 2015

Sahabat Imanku

Oleh : Mada Nofiati

Dulu kau bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa
Aku mengenalmu ala kadarnya
Gadis berkhimar panjang yang hanya aku lihat dari sudut mata
Wajah tak berpoles sederhana tak bermakna
Aku yang dulu berlenggok bak putri raja, semua terpana berdecak kagum menatapku
Apa yang tak bisa ku raih? gelimang harta, wajah molek menawan 
Ah, hidup bagaikan di awang-awang
Namun hati tetap hampa, kosong, kering tak berpelumas, 
terasa kaki ini tak menapak di bumi, langkah bagaikan tak berarti
Sebuah kisah bagian takdir menyapa
Kisah yang ditulis olehNya tuk bangunkan aku dari kefanaan, kembali pada fitrah penciptaan diri
Aku yang kala itu terjatuh
Sekedar berdiri pun penuh peluh
Tak ada teman berpegang, apalagi menarikkuu bangkit
Sang Maha menuntunmu padaku
Senyum teduhmu yang dulu bukan sesuatu, sanggup hilangkan dahaga
Kau tarik aku dari gelap dan duka
Kau usap air matamu saat matamu berkaca
Kau obati lukaku saat hatimu pun terluka
Kau rasakan semua apa yang ku rasa
Kau tuntun diri ini bagai menuntun dirimu sendiri
Lembut, terarah, dan bermakna
Kau ajak aku bertafakur
Kau ingatkan aku tuk bermunajat
Kau bawa aku bertaubat
Kau iringi aku dalam langkahNya
Kini kita melangkah bersama menapaki kehidupan istiqomah menuju Jannah
Kini kau apa-apa dan siapa-siapa

Rabu, 21 Januari 2015

Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai


Oleh : Jalaluddin Rumi

Jika engkau bukan seorang pencinta,
maka jangan pandang hidupmu adalah hidup
Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan
dihitung Pada Hari Perhitungan nanti
Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta,
akan menjelma menjadi wajah yang memalukan di hadapan-Nya.
Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit
dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari
Mereka merupakan bintang-bintang di langit
agama yang dikirim dari langit ke bumi
Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah
dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.
Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting
dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan
Lihatlah pepohonan ini! Semuanya gembira
bagaikan sekumpulan kebahagiaan
Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan?
Sang lili berbisik pada kuncup: “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”
Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati
adalah melalui Kerendahan Hati.
Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan:
“Bukankah Aku ini Rabb-mu?"

Selasa, 06 Januari 2015

Tersenyumlah

Orang berkata, "Langit selalu berduka dan mendung."
Tapi aku berkata, "Tersenyumlah, cukuplah duka cita di langit sana."

Orang berkata, "Masa muda telah berlalu dariku."
Tapi aku berkata, "Tersenyumlah, bersedih menyesali masa muda 
tak kan pernah mengembalikannya"

Orang berkata, " Langitku yang berada dalam jiwa 
telah membuatku merana dan berduka. 
Janji-janji telah mengkhianatiku ketika kalbu telah menguasainya. 
Bagaimana mungkin jiwaku sanggup 
mengembangkan senyum manisnya
Maka akupun berkata, "Tersenyumlah dan berdendanglah, 
kala kau membandingkan semua umurmu kan habis untuk 
merasakan sakitnya.

Orang berkata, "Perdagangan selalu penuh intrik dan penipuan,
ia laksana mufasir yang akan mati karena terserang rasa haus."
Tapi aku berkata, "Tetaplah tersenyum, 
karena engkau akan mendapatkan penangkal dahagamu. 
Cukuplah engkau tersenyum, 
karena mungkin hausmu akan sembuh dengan sendirinya. 
Maka mengapa kau harus bersedih dengan dosa 
dan kesusahan orang lain, 
apalagi sampai engkau seolah-olah
yang melakukan dosa dan kesalahan itu? "

Orang berkata, " Sekian hari raya telah tampak tanda-tandanya
seakan memerintahkanku membeli pakaian dan boneka-boneka.
Sedangkan aku punya kewajiban bagi teman-teman dan saudara,
namun telapak tanganku tak memegang 
walau hanya satu dirham adanya
Ku katakan : Tersenyumlah,
cukuplah bagi dirimu karena Anda masih hidup,
dan engkau tidak kehilangan saudara-saudara 
dan kerabat yang kau cintai. 

Orang berkata, " Malam memberiku minuman 'alqamah, 
tersenyumlah, walaupun kau makan buah 'alqamah.
Mungkin saja orang lain yang melihatmu berdendang 
akan membuang semua kesedihan. Berdendanglah 
Apa kau kira dengan cemberut akan memperoleh dirham 
atau kau merugi karena menampakkan wajah berseri ?
Saudaraku, tak membahayakan bibirmu jika engkau mencium 
juga tak membahayakan jika wajahmu tampak indah berseri
Tertawalah, sebab meteor-meteor langit juga tertawa
mendung tertawa, karenanya kami mencintai bintang-bintang

Orang berkata, "Wajah berseri tidak membuat dunia bahagia 
yang datang ke dunia dan pergi dengan gumpalan amarah."
Ku katakan, "Tersenyumlah, selama antara kau dan kematian 
ada jarak sejengkal, setelah itu engkau tidak akan pernah tersenyum."


(dikutip dari karya Elia Abu Madhi)






Minggu, 28 Desember 2014

"Negeri Kelantan Seindah Namamu"

                                            OleH: Oki Setiana Dewi
Negeri Kelantan seindah namamu,
Tanah serendah sekebun bunga,
Negeri tadahan wahyu,
Cik Siti Wan Kembang,
Cukup indah namamu,
Seindah negerimu,

Duhai wajahmu yang indah,
Persis Jeddah,
Yang pernah ku lewati,
Taat menjunjung Al-Quran,
Teguh menggalas syariat,
Yang tidak pernah goyah,
Tersentuh hati kudusku,

Lantaran aku disini,
Biar tidak pernah ku duga,
Bertemu dengan seorang ulama,
Yang dicintai rakyatnya,
Lalu kuntum rindu yang lama tersimpan,
Terubat jua akhirnya,
Biar sekelumit cinta,

Beruntung rakyatnya,
Menumpang teduh seorang ulama,
Yang lembut tapi tegas beribadah,
Yang pengasih namun tidak goyah,
Pada percikan kealpaan dunia,
Pasti aku merinduimu lagi,
Entah kapan bisa di ubati,
Cuma setitis doa bisa ku titip buatmu,
Memacu membangun Islam bersama,
Semoga kita bertemu kembali.